SEJARAH SMU YPPK TERUNA BAKTI - WAENA
( Keterangan Foto : Proses pembangunan perumahan Belanda yang
sering disebut dengan istilah "Benteng Belanda" disamping lapangan Bola
SPG/SMU Teruna Bakti Waena di tahun 1950-an. Sumber foto:Theopilus Obed Lay, Alumni Teruna Bakti'97. Lokasi SMU Teruna Bakti diberikan oleh Ondoafi Waena yang sekarang masih hidup yaitu bapak Ramses Ohee, sebagai perhatian kepada Gereja dan Pemerintah pada saat itu )
SMA
YPPK Teruna Bakti Waena yang kita ketahui saat ini merupakan gambaran sekolah
modern di kota-kota besar. Padahal dibalik modernisasi yang ada saat ini,
Teruna Bakti menyimpan banyak cerita yang pastinya teman-teman belum
mengetahuinya.
Berawal
dari SPG (Sekolah Pedidikan Guru) yang pada masa penjajahan Belanda dinamakan
ODO ini berkedudukan di Fak-Fak. Kemudian setelah Papua beralih ke Republik
Indonesia pada tahun 1963 sistem pendidikannya pun diubah. Pendidikan guru yang
terendah ini diubah namanya menjadi SGB. Rencana awalnya, SGB ini akan
didirikan di Wagetse. Namun pendiriannya di Nabire ini belum sampai satu tahun kemudian
dipindahkan lagi ke Kokonao.
Akhirnya
setelah tahun 1965, Keuskupan mulai mengikuti perkembangan pendidikan di Tanah
Papua. Sehingga mulai membenahi status pendidikan yang ada. Tamatan SGB dan SMP
yang sudah mengajar tetapi belum berkeluarga dapat melanjutkan kejenjang ke
SGA.
Sedangkan
ODO ditingkatkan menjadi SPG. Kebijakan keuskupan pun akhirnya berubah. SGB dan
SGA dilebur menjadi SPG yang ditempuh selama 6 tahun. SGB bertempat di Kokonao.
Sedangkan SGA berkedudukan di Biak.
Seiring
berkembangnya pendidikan di Papua, mengakibatkan semakin banyaknya siswa yang
ingin menimba ilmu. Sehingga salah satu LSM asal Belanda tergerak hatinya untuk
mendirikan sekolah. Sekolah katolik dipusatkan di Waena, Jayapura. Sedangkan
sekolah protestan ditempatkan di Biak.
Nah,
mulailah SGB Teruna Bakti ini beroperasi di Waena sejak tahun 1971. Namun
selang satu tahun kemudian, tepatnya tahun 1972 SGB dihapuskan kemudian diubah
menjadi SPG.
Sebenarnya
dalam rentan waktu dari tahun 1962 hingga 1968 sekolah ini belum diberi nama. Pada
tahun 1968 barulah diberi nama oleh Sr. Warson, seorang biarawati dari Ternate
yang pada saat itu menjabat sebagai Kepala Sekolah SPG Teruna Bakti.
Sekolah
Pendidikan Guru (SPG) ini berjalan lancar hingga tahun 1989. Pada tahun 1990 SPG
Teruna Bakti tidak lagi menerima murid baru karena mulai mengalami peralihan menjadi
SMA. Dan hingga saat ini, SMA YPPK Teruna Bakti tetap eksis dengan melahirkan
putra putri Bangsa yang berkualitas. Kepala sekolah yang pernah menjabat di SMA
YPPK Teruna Bakti diantaranya Bapak Bambang Sutaji, Bapak Karsinu, Sr.
Jeannette, Ibu Veronika dan saat ini dijabat oleh Bapak Kornelius Tamakaengi.
Banyak
penghargaan yang sudah kita raih. Berbagai bidang studi yang ditandingkan
berani digasak oleh anak-anak SMA Teruna Bakti dalam meraih prestasi. Ditambah
lagi dengan prestasi dalam berbagai bidang olahraga dan ekstrakulikuler
lainnya. Sungguh prestasi yang patut dibanggakan dan menjadi kebanggaan tersendiri
bagi kita yang telah menyelesaikan pendidikan di SMA YPPK Teruna Bakti.
#Brigitta M.
SMA Teruna Bakti always n forever deh...
BalasHapusRindu smua kenangan2 di TB,,knagen temen2,,kngen guru2,,n kngen suasana skul...:):)
amin........
HapusMemang sampai tua-tua SMU Jaya...:-)
BalasHapusMantap flory... yg ini sangat Di butuhkan...
BalasHapus