Veronika Everesta Angelina Reyaan:
Dari SMP Le Coq D’Armandville
Kaokanao Sampai Ke Teruna Bhakti
![]() |
| Alm.Bpk.Karel Mitapo dan Ibu Veonika waktu masih di SPG TB |
Jumat 17 Agustus 2012 sekitar
pukul 16.35 waktu Timika, Ketua Umum Alumni Teruna Bhakti (TB) Florry Koban dan
Pengurus Alumni TB Rayon Timika : Monica Maramko, Diana Kelananggame, Giliom
Komber dan Aleda Wayaru mengetuk pintu rumah salah satu alumni Sekolah
Pendidikan Guru (SPG) Teruna Baakti Waena Jayapura angkatan tahun 1981.
Namanya Veronika Everesta
Angelina Reyaan. Anak kandung pertama dari Yoseph Reyaan, Guru didikan Belanda.
Masih ada 4 saudara lainnya. Lahir di Kaokanao, 1 Agustus 1961, lanjut SD di
sejumlah tempat di Kampung Pesisir Mimika, sesuai tempat tugas ayahnya. Seperti
di Kaokanao, Agimuga, dan tamat SD di
Mware tahun 1975. Lanjut SMP Le Coq D’Armanville, tamat tahun 1977.
Tante Vero berpacaran dengan Pak
Karel sejak SMP Le Coq D’Armandville
Kaokanao. Ketika rombongan Temu Kangen Akbar TB tahun 2012 berjumpa
dengannya, Ia mengawali cerita dengan kisah motor HONDA GL 100 selama bertugas
di Pike Wamena. “Motor penyelamat,” ucapnya. Soalnya, para istri guru yang mau
melahirkan, terpaksa dievakuasi menggunakan motor GL itu. Nantinya ketika
berpindah tugas bersama suaminya Karel Mitapo (Almahrum) tahun 2000, motor itu
dibawah ke Timika dan masih ada sampai sekarang di kediamannya.
“Pacaran menurut orang tua adalah
hal tabuh, sehingga waktu di Kaokanao kami dua bisa komunikasi hanya lewat
surat,” jelasnya. Membaca surat cintanya di kamar mandi, kemudian dibuang ke
water closed (wc) atau disobek-sobek untuk menyembunyikan rahasianya. Usai
tamat SMP, keduanya melanjutkan pendidikan di Jayapura. Mace Vero ke SPG Teruna
Bhakti dan Pace Karel ke SGO Jayapura. “Tapi karena saya di SPG, belum satu
tahun Pace (Karel) juga pindah ke SPG,” katanya. Karel merupakan anak emas
Pater Frans Lishout, OFM, rektor Teruna Bhakti Waena Jayapura selama 10 tahun.
![]() |
| Anak-anak Asrama SPG TB'81 menyelesaiakan pembangunan Kapela St. Clara |
Ketika dari kelas 1 naik kelas 2,
tahun 1978/1979 periode tahun ajaran berubah. Dari bulan Desember menjadi bulan
Juni-Juli. “Jadi kami di kelas 2 selama 1 ½ tahun,” ucapnya. Di Asrama belajar banyak hal, didampingi
Suster Andre, Suster Marice dan Pembina Bruder Henk Boys, OFM dan Rektor Frans
Lishout, OFM. Asrama dan sekolah SPG TB
dikenal sebagai SPG Belanda. Tiap weekend, sebulan sekali tiap penghuni
mendapat uang transportasi. Tak heran
bila, kesempatan itu dimanfaatkan asrama katolik lainnya di Kota Jayapura. Salah satunya, Asput TB sering mendapat
undangan acara melantai akhir pekan atau ketika acara rekreasi bersama antar
asrama katolik. Paling banyak adalah, pesan surat dan ucapan salam khusus dari
para pria penghuni Asrama Tauboria, Asrama Mahasiswa Katolik di Abepura Jayapura.
“Kami semangat. Selain hidupnya teratur dan disiplin, juga belajar mandiri, dan
hidup bersama dalam kelompok,” katanya. Kekompakan internal TB tampak ketika
main volley, Tim Basket, Group Band TB dan kerja bhakti serta tugas rutinitas
di asrama. Pada tahun 1980-an “Drum Band”
dan “Kelompok paduan Suara” di Kota
Jayapura hanya dimiliki oleh SPG Teruna Bakti, mereka sering dipanggil untuk
acara kenegaraan di Provinsi Papua. Kelompok Drum Band SPG Teruna Bakti tidak
tampil lagi sekitar tahun 1982 ketika sekolah lain sudah memiliki grub Drum
Band. SPG terkenal dengan kebersihan dan kerindangannya. “Disiplin dan rapi
dalam segala hal. Kertas atau plastik apapun yang jatuh, kami punggut tanpa
disuruh,” kesannya.
Baginya, rasa cintanya kepada Karel
Mitapo merupakan kelanjutan sejak SMP. Sehingga saat SMA maupun ketika menjadi
guru merupakan proses pematangan kedewasaan menuju keluarga mandiri. Demi cintanya,
Karel dan Vero sering mengelabuhi Yohana Sowai, Paul Sowai, Yerina Kipimbob,
Yosepha Rahangiar dan rekan sejawat lainnya di asrama. “Saya ketua Asput
(Asrama Putri) selama 2 tahun sejak tahun 1979 sampai 1981. Pace Karel (Ketua Umum Asrama TB) biasa bilang alasan ke
rekan-rekan penghuni asput, perlu dengan ketua asput,” ucapnya bernostalgia. Kenangan terindah dari alam maupun suasana
hati adalah ketika semua penghuni asrama putri maupun putra unit I, II dan unit
III menyebrang Danau Sentani, berwisata. Piknik sekaligus perpisahaan dengan
Kepala Sekolah SPG TB, Suster Marice ke tangan Kepala Sekolah SPG baru, Suwondo.
Vero dan Karel tamat SPG tahun
1981. Kemudian keduanya kebetulan ditugaskan di Wamena. Mace Vero di SD YPPK
Kurulu, kurang lebih jaraknya 1 ½ jam dari tempat tugas Pace Karel di SD YPPK
Pike. Menikah setelah mengabdi sebagai guru di Wamena. Hampir 19 tahun berlalu,
pasangannya dikaruniai 5 anak selama di Lembah Baliem Wamena. Anak pertama Melli
Mitapo, Kedua Maria Mitapo, ketiga Marthen Mitapo, keempat Rudolfo Mitapo dan terakhir
Mia Mitapo.
Duka pun pernah dialami keluarga Karel Mitapo, menjelang ke Timika. Anaknya yang ke-4, Rudolfo hilang di
sekitar kali Baliem Hepuba. Kejadiannya misteri. Beberapa tahun setelah pindah
ke Timika, mereka mencurigai sebuah kiriman lagu “ucapan salam” via salah satu
stasiun siaran radio, katanya berasal dari Rudolfo Mitapo di Hepuba. “Tante
ingat itu, salam itu ditujukan buat keluarga. Bapa, mama, om Nilus, kaka Leni
dan lain-lain,” ucapnya bersaksi sekaligus membandingkan pesan Uskup Keuskupan
Jayapura, Mgr Leo Laba Ladjar, OFM. “Rudolfo bukan tenggelam, tapi hilang di
darat,” kutip pesan Uskup Jayapura waktu itu. Mama Vero tak sudi meninggalkan
Wamena. Kenangannya selama bertugas di Helagaima, Wetawak, Wehagobu dan Yepuba
masih kuat. Meski demikian, ia terpaksa pindah tugas atas desakan orang tuanya.
Ke-3 saudara kandung Tante Vero, diantaranya, Ita Reyaan dan
Natalia Reyaan juga telah menjadi guru di Papua, selisih beberapa tahun. Sedangkan
ke-2 saudara lainnya menjadi birokrat PNS. Bagi Tante Vero, menjadi guru
merupakan melanjutkan tugas mulia ayahnya. “Cita-cita masa kecil saya adalah
mau ganti bapa (guru), karena pengabdiannya di tingkat kampung. Bukan hanya
itu, bapa juga korban banyak demi banyak orang dan masa depan generasi Papua,”
kenangnya.
Bila membandingkan pengalaman
menjadi guru di Wamena selama 19 tahun dan 12 tahun di Timika, katanya, di
Wamena lebih baik kedisiplinannya. Di Timika banyak pengaruh akibat kota,
sehingga pendidikan, moral dan kedisiplinan anak-anak pelajar muda pudar. Kalau
di kampung, pendidikan diawali dari nol. Anak-anak tanpa pakaian, juga banyak
tantangan sesuai pola adat setempat. Seperti kawin paksa dari orang tua kepada
anak perempuannya ketika memasuki usia remaja. “Waktu di Wamena saya berdiri di
pintu kelas (SD). Tolak paksa kawin dari orang tua. Saya bilang, kalau mau
ambil anak-anak putri untuk dikawinkan, lebih baik saya yang pindah tugas dari
sini,” tegasnya kala bertugas di Wamena.
Berkat perjuangannya, kini ada siswinya di Wamena telah menjadi kepala
distrik (dulu camat) dan masih banyak pejabat lainnya di Papua.
![]() |
| Ibu Veronika Mitapo berpose bersama teman-teman angkatan SPG'81 di depan jalan menuju kantor |
Vero dan suaminya mengabdi sebagai guru diantara ribuan guru di Papua. Aktif
menjalani tugasnya sebagai guru. Sayangnya, hampir 7 tahun lalu Paitua Karel telah dipanggil
Tuhan. Sedangkan tante Vero masih mengajar di SD Wanaripi Timika. Keempat
anaknya telah bekerja di sejumlah tempat, kecuali si bungsu masih sekolah di
salah satu SMA di Timika. Tante Vero bersama anak-anaknya menghuni satu unit
rumah di belakang Hasrat Jalan Cenderawasih Timika Papua. Ia berpesan agar
menjadi guru merupakan panggilan hati nurani. Bukan keterpaksaan atau sebagai
tempat pelarian, demi mewujudkan generasi cerdas, pintar dan bermoral. “Guru
bukanlah berotak uang, tapi berpikir membina iman, moral dan disiplin terhadap
anak-anak titipan para orang tua,” pintahnya menutup diskusi dengan kelompok
alumni TB di Timika. (Willem Bobi/Timika)



Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapus