Kamis, 16 Agustus 2012

dari Timika - Temu Kangen di hari Kemerdekaan RI


Berjumpa Dengan Alumni SPG Teruna Bakti'84, Thomas Mutaweyau

kak'Thomas Mutaweyau dan Florry Koban di Taman Serayu Hotel
17 Agustus 2012, setelah Upacara Kenegaraan
Mengenang kisah di Teruna Bhakti, kali ini perwakilan alumni Teruna Bhakti (TB) Timika Monica Maramko bersama Ketua Umum Alumni TB Florry Koban bertemu Kaka, Om, Paitua Thomas Mutaweyau, Kabid Seni Budaya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Mimika. Sejak awal para alumni TB mengkomunikasikan tentang kegiatan akbar Teruna Bhakti, ia menyambut baik. “Waa… itu sangat baik. Bisa mempersatukan kita keluarga besar Teruna Bakti, dari jaman SPG sampai SMA,” sambutnya.

Sudah beberapa kali, Saudari Monica Ice Maramko, Diana Kelananggame, Aleda Wayaru, Giliom Komber dan kawan-kawannya berusaha mengkomunikasikan melalui nomor kontaknya.Terakhir menjelang persiapan Hari ulang Tahun 17 Agustus, kemerdekaan RI ke-67, Florr Koban datang ke Timika dari Jayapura. Tujuannya, mengkomunikasikan rekan-rekan sealumni Timika. Kamis (16/8/2012), sore sekitar jam 15.00, secara kebetulan kami ketemu Pak Thomas di Depan Jejeran Kios Pasar Lama, tepatnya Depan Hotel Serayu Timika. “Kak selamat Sore,” sapa Florry sambil memperkenalkan dirinya dan tujuannya. “Oke baik, kapan kita berbincang-bincang?” balas Pak Thomas. Meski Sebentar saja. Keduanya berbasa-basi seputar kisah masa lalu. “Lalu bagaimana dengan Pak Guru Karel Koban di Wamena?” tanya Pak Thom mengenang masa tugasnya menjadi guru usai menamatkan SPG Teruna Bhakti. “Itu bapak saya,” kata Florry memperkenalkan. Keduanya kemudian berjanji berjumpa esoknya, setelah upacara peringatan 17 Agustus di Kota Timika. Pak Thomas pergi,  menyelesaikan urusan dinas, kemudian rekan Ice, Aleda, Florry dan  Diana kembali ke agenda lain, yaitu bertujuan menemui para alumni TB jaman SPG maupun SMA di Kota Timika.
Bersama Koordinator TB Rayon Timika, Monicha Maramko (Alumni TB'01)
Janji untuk bertemu Pak Thomas terwujud esoknya, Jumad (17/8). Usai peringatan upacara kemerdekaan RI, Diana, Ice, Florry dan Aleda bersama Pak Thomas berdiskusi di Taman Hotel Serayu Timika. Meski pakaian berdasi lengkap, gaya TB tak lepas darinya. Apalagi ketika bercerita tentang TB dan masa lalunya. Pace Thom langsung menceritakan sejumlah kisahnya, di sela-sela sosialisasi rencana peringatan akbar Alumni TB pada 1  September 2012 mendatang. Ia juga sempat  menyebutkan nama, jabatan dan alamat rekan sejawatnya yang hampir tersebar di sejumlah daerah di Papua, Seperti di Kabupaten Asmat, Mimika, Paniai, Deiyai, Dogiyai, Nabire, Wamena dan Pegunungan Bintang.
Sejumlah kisah yang tak pernah dilupakan, diantaranya, kisah pohon cemara, asrama, sekolah dan Pak Bandi (Subandi). “Satu kali, Paulus ambil supermi 4 (empat) bungkus. Setelah Paulus ambil langsung sembunyi (gulung) di baju bagian depan,” kenangnya. Tapi aksi malam itu tertangkap basah. Senter Bruder Boy berwarna biru langsung menunjuknya,  meski belum kena sasaran tepat. Pak Thom langsung bersembunyi di balik rerumputan Putri Malu. Paulus sambil membawa Supermi putar di belakang dapur. Tapi apa nasib? “Saya lihat dari rumput-rumput, Paulus dapat tangkap dan Bruder bilang, Nei Paulus, buat apa di sini?” tanya Bruder Boy ( dengan gaya orang Belanda ) menangkap Paulus di pojok dapur. “Ah tidak bruder,… Saya apa ini, ini!” balasnya salah bertingkah. Tapi bruder tahu, Paulus telah mencuri Supermi. “Bruder, bukan saya sendiri.Thomas juga ada di bawah, sembunyi di rumput,”membelanya. Lalu apa yang terjadi? Keduanya harus membayarnya dengan hukuman. Esoknya Thom dan Paulus babat rumput di samping asrama putri (asput). Paulus dan Thomas harus membabatnya dari sebelah sana, bukan dari  depan asrama putri. Karena takut dan malu, sama saja dengan menjual harga diri di hadapan teman-teman penghuni asrama putri.
Bersama-sama dengan teman dari berbagai daerah, mereka sering mencari kerja borongan. Kali ini Thomas dan kawan-kawannya menjadi pemborong bangunan gedung YPPGI Argapura, juga pernah borong beberapa bangunan di Entrop Jayapura. Para putra harus membayar hinaan, cacimaki, cemooh dari penghuni asput. Katanya Asput selalu mencari gara-gara. “Satu kali mereka (asput) bilang, ee… buruh kasar ada kerja sana…” ejek para penghuni Asput, dikutip Kak Thom. Lalu apa balasannya? Thomas dan kawan-kawannya usai mendapat bayaran borongan, membeli pisang goring, satu orang satu plastik, seharga 2 hari kerja, Rp.1.400,-  Kantongi uang di saku, kemudian mereka  numpang truk  pulang ke Asrama TB. Turun di depan rumah Bapak Karsinu,deretan rumah guru TB pertama, sebelah kanan. Setelah membeli pisang goreng, mereka duduk makan-makan di depan asput. “Kami makan depan asput, sambil gara-gara Asput,” cerita Thom. Para pria itu bersepakat, tidak memberikan kepada rekan-rekan putri di Asput, karena meski rekan seperjuangan, para putri itu selalu mencari gara dan mencemohnya.
Bagi siapapun alumni, kenangan selama di TB cukup banyak. Di Sekolah, pelajaran yang tak pernah dia lupakan adalah, tentang makhluk hidup dari Pak Subandi. “Makhluk hidup ada tiga. Yang paling tertinggi adalah manusia karena punya akal,” sebutnya disamping hewan dan tumbuh-tumbuhan. Ia berilustrasi, burung membuat sarangnya begitu-begitu saja. Sedangkan manusia, contohnya rumah bina, direhap dan direnovasi sesuai  buah akal manusia.
Hasil dari pertemuan kali ini di Timika, Thomas meninggalkan sejumlah pesan selain ia akan mensosialisasikan ke sejumlah alumni TB. “Agenda yang sedang jalan ini sangat baik dan silahkan teruskan. Jika nanti kemudian ada pikiran baru, ide baru maka kita akan diskusikan lebih luas,” pesannya untuk keluarga besar TB di manapun berada. (Willem Bobi/Timika)     

fb comment box

Tidak ada komentar:

Posting Komentar