Berjumpa Dengan Alumni SPG Teruna Bakti'84, Thomas Mutaweyau
![]() |
| kak'Thomas Mutaweyau dan Florry Koban di Taman Serayu Hotel 17 Agustus 2012, setelah Upacara Kenegaraan |
Mengenang kisah di Teruna Bhakti,
kali ini perwakilan alumni Teruna Bhakti (TB) Timika Monica Maramko bersama
Ketua Umum Alumni TB Florry Koban bertemu Kaka, Om, Paitua Thomas Mutaweyau,
Kabid Seni Budaya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Mimika. Sejak awal para alumni
TB mengkomunikasikan tentang kegiatan akbar Teruna Bhakti, ia menyambut baik. “Waa…
itu sangat baik. Bisa mempersatukan kita keluarga besar Teruna Bakti, dari
jaman SPG sampai SMA,” sambutnya.
Sudah beberapa kali, Saudari Monica
Ice Maramko, Diana Kelananggame, Aleda Wayaru, Giliom Komber dan kawan-kawannya
berusaha mengkomunikasikan melalui nomor kontaknya.Terakhir menjelang persiapan
Hari ulang Tahun 17 Agustus, kemerdekaan RI ke-67, Florr Koban datang ke Timika
dari Jayapura. Tujuannya, mengkomunikasikan rekan-rekan sealumni Timika. Kamis
(16/8/2012), sore sekitar jam 15.00, secara kebetulan kami ketemu Pak Thomas di
Depan Jejeran Kios Pasar Lama, tepatnya Depan Hotel Serayu Timika. “Kak selamat
Sore,” sapa Florry sambil memperkenalkan dirinya dan tujuannya. “Oke baik, kapan
kita berbincang-bincang?” balas Pak Thomas. Meski Sebentar saja. Keduanya berbasa-basi
seputar kisah masa lalu. “Lalu bagaimana dengan Pak Guru Karel Koban di Wamena?”
tanya Pak Thom mengenang masa tugasnya menjadi guru usai menamatkan SPG Teruna
Bhakti. “Itu bapak saya,” kata Florry memperkenalkan. Keduanya kemudian
berjanji berjumpa esoknya, setelah upacara peringatan 17 Agustus di Kota
Timika. Pak Thomas pergi, menyelesaikan
urusan dinas, kemudian rekan Ice, Aleda, Florry dan Diana kembali ke agenda lain, yaitu bertujuan
menemui para alumni TB jaman SPG maupun SMA di Kota Timika.
![]() |
| Bersama Koordinator TB Rayon Timika, Monicha Maramko (Alumni TB'01) |
Janji untuk bertemu Pak Thomas
terwujud esoknya, Jumad (17/8). Usai peringatan upacara kemerdekaan RI, Diana, Ice,
Florry dan Aleda bersama Pak Thomas berdiskusi di Taman Hotel Serayu Timika.
Meski pakaian berdasi lengkap, gaya TB tak lepas darinya. Apalagi ketika
bercerita tentang TB dan masa lalunya. Pace Thom langsung menceritakan sejumlah
kisahnya, di sela-sela sosialisasi rencana peringatan akbar Alumni TB pada 1 September 2012 mendatang. Ia juga sempat menyebutkan nama, jabatan dan alamat rekan
sejawatnya yang hampir tersebar di sejumlah daerah di Papua, Seperti di
Kabupaten Asmat, Mimika, Paniai, Deiyai, Dogiyai, Nabire, Wamena dan Pegunungan
Bintang.
Sejumlah kisah yang tak pernah
dilupakan, diantaranya, kisah pohon cemara, asrama, sekolah dan Pak Bandi
(Subandi). “Satu kali, Paulus ambil supermi 4 (empat) bungkus. Setelah Paulus
ambil langsung sembunyi (gulung) di baju bagian depan,” kenangnya. Tapi aksi
malam itu tertangkap basah. Senter Bruder Boy berwarna biru langsung menunjuknya,
meski belum kena sasaran tepat. Pak Thom
langsung bersembunyi di balik rerumputan Putri Malu. Paulus sambil membawa
Supermi putar di belakang dapur. Tapi apa nasib? “Saya lihat dari
rumput-rumput, Paulus dapat tangkap dan Bruder bilang, Nei Paulus, buat apa di
sini?” tanya Bruder Boy ( dengan gaya orang Belanda ) menangkap Paulus di pojok
dapur. “Ah tidak bruder,… Saya apa ini, ini!” balasnya salah bertingkah. Tapi
bruder tahu, Paulus telah mencuri Supermi. “Bruder, bukan saya sendiri.Thomas
juga ada di bawah, sembunyi di rumput,”membelanya. Lalu apa yang terjadi?
Keduanya harus membayarnya dengan hukuman. Esoknya Thom dan Paulus babat rumput
di samping asrama putri (asput). Paulus dan Thomas harus membabatnya dari
sebelah sana, bukan dari depan asrama
putri. Karena takut dan malu, sama saja dengan menjual harga diri di hadapan
teman-teman penghuni asrama putri.
Bersama-sama dengan teman dari
berbagai daerah, mereka sering mencari kerja borongan. Kali ini Thomas dan kawan-kawannya
menjadi pemborong bangunan gedung YPPGI Argapura, juga pernah borong beberapa
bangunan di Entrop Jayapura. Para putra harus membayar hinaan, cacimaki, cemooh
dari penghuni asput. Katanya Asput selalu mencari gara-gara. “Satu kali mereka
(asput) bilang, ee… buruh kasar ada kerja sana…” ejek para penghuni Asput,
dikutip Kak Thom. Lalu apa balasannya? Thomas dan kawan-kawannya usai mendapat
bayaran borongan, membeli pisang goring, satu orang satu plastik, seharga 2
hari kerja, Rp.1.400,- Kantongi uang di
saku, kemudian mereka numpang truk pulang ke Asrama TB. Turun di depan rumah
Bapak Karsinu,deretan rumah guru TB pertama, sebelah kanan. Setelah membeli
pisang goreng, mereka duduk makan-makan di depan asput. “Kami makan depan
asput, sambil gara-gara Asput,” cerita Thom. Para pria itu bersepakat, tidak
memberikan kepada rekan-rekan putri di Asput, karena meski rekan seperjuangan, para
putri itu selalu mencari gara dan mencemohnya.
Bagi siapapun alumni, kenangan selama
di TB cukup banyak. Di Sekolah, pelajaran yang tak pernah dia lupakan adalah,
tentang makhluk hidup dari Pak Subandi. “Makhluk hidup ada tiga. Yang paling tertinggi
adalah manusia karena punya akal,” sebutnya disamping hewan dan
tumbuh-tumbuhan. Ia berilustrasi, burung membuat sarangnya begitu-begitu saja.
Sedangkan manusia, contohnya rumah bina, direhap dan direnovasi sesuai buah akal manusia.
Hasil dari pertemuan kali ini di
Timika, Thomas meninggalkan sejumlah pesan selain ia akan mensosialisasikan ke
sejumlah alumni TB. “Agenda yang sedang jalan ini sangat baik dan silahkan
teruskan. Jika nanti kemudian ada pikiran baru, ide baru maka kita akan
diskusikan lebih luas,” pesannya untuk keluarga besar TB di manapun berada.
(Willem Bobi/Timika)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar